WEN’S PHOTOGRAPHY GALLERY

Maret 21, 2010 at 1:33 am (by Derisma) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , )

Baliho

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.45 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204

http://minangdigitalphotography.blogspot.com

http://minangphotographer.wordpress.com/

Permalink 1 Komentar

PAKAIAN PENGANTIN MINANG

Maret 20, 2010 at 4:41 am (by Derisma) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , )

Dalam alek di minangkabau pada umumnya pengantin perempuannya menggunakan suntiang. Suntiang adalah hiasan kepala pengantin perempuan di Minangkabau atau Sumatra Barat. Hiasan yang besar warna keemasan atau keperakan yang khas itu, membuat pesta pernikahan budaya Minangkabau berbeda dari budaya lain di Indonesia. Perempuan minangkabau mesti bangga dengan budaya minangkabau, terutama soal pakaian pengantin. secara turun temurun, busana pengantin Minangkabau sangat khas, terutama untuk perempuannya, yaitu selain baju adat-nya baju kurung panjang dan sarung balapak, tak ketinggalan sunting.

Sedangkan untuk hiasan kepala sebenarnya beragam bentuknya. Saat ini, hiasan kepala “Suntiang Kambang” asal Padang Pariaman lah yang di lazim digunakan di Sumatera Barat. Padahal ada banyak bentuk hiasan kepala, ada yang berupa sunting Pisang Saparak (Asal Solok Salayo), Sunting Pinang Bararak(Dari Koto nan Godang Payakumbuh), Sunting Mangkuto (dari Sungayang), Sunting Kipeh (Kurai Limo Jorong), Suntiang Sariantan (Padang Panjang), Suntiang Matua Palambaian, dll.

Tidak hanya sunting, di beberapa daerah juga mengenakan Tikiluak Tanduak dengan beragam bentuk, seperti tikuluak tanduak batipua, tanduak lilik (payakumbuh), Tanduak Balenggek dari Sungayang, Tanduang dari Lintau Buo, termasuak Tikuluak Kecubung dari Magek. Dan ada yang hanya berupa kain yang di lekapkan ke kepala, yaitu tengkuluk khusus yang disebut talakuang serta baju kurung yang disebut Batabue atau Bertabur, seperti di Koto Gadang. Sayangnya, beragam hiasan tersebut sudah jarang digunakan. Disamping karena ketidak laziman juga karena ketidak tahuan kita. Sehingga, hanya Suntiang Gadang lah yang dianggap betul-betul baju Anak Daro di Minangkabau.

Suntiang juga ada beberapa bentuk. Selain yang standar berbentuk setengah lingkaran yang umum dipakai, juga ada suntiang khas masing-masing daerah di Sumatera Barat. Di antaranya suntiang Sungayang, Tanah Datar yang memiliki mahkota, suntiang kurai (Bukittinggi), suntiang Pariaman, dan Solok Selatan, dan suntiang Solok yang dirangkai tanpa kawat.

Suntiang, sebagai kekhasan pengantin Minangkabau Pesisir yang berasal dari daerah Padang/ Pariaman. Kembang-kembang suntiang ini umumnya bertingkat dengan ganjil dimulai dari tujuh tingkat hingga sebelas tingkat. Ada juga suntiang bertingkat mulai dari tiga hingga lima yang biasanya digunakan untuk pendamping pengantin atau dikenal juga dengan sebutan Pasumandan. Namun karena alasan kepraktisan dan menyesuaikan dengan bentuk wajah, kini tingkatan pada Suntiang dipertahankan ganjil namun jumlah tingkatannya disesuaikan dengan kemampuan dan kemauan si pengantin.

Keindahan Suntiang diawali dengan susunan kembang goyang yang digunakan oleh tiap pengantin wanita. Pada lapisan bawah Suntiang digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Sarunai yang terdiri dari tiga hingga lima deretan. Lapisan kedua digunakan kembang goyang yang dinamakan Bungo Gadang yang juga terdiri dari tiga hingga lima deretan. Terletak paling atas adalah Kambang Goyang dengan hiasan-hiasan lainnya yang disebut Kote-kote. Di bagian belakang sanggul terdapat Tatak Kondai dan Pisang Saparak yang menutupi sanggul bagian belakang. Sedangkan di dahi pengantin wanita terdapat Laca, dan Ralia di bagian telinga.

Dahulu, berat sunting mencapai beberapa  kilogram sebab terbuat dari alumunium dan besi-besi, ada yang terbuat dari emas, dan harus ditancapkan satu persatu pada rambut mempelai wanita.  Memakai suntiang kerapkali juga salah satu yang ditakutkan calon pengantin perempuan Minang. Suntiang yang beratnya bisa mencapai 3,5-5 kg (Jadi hampir sama dengan berat laptop model lama atau berat topi baja militer) dan mesti dikenakan di kepala selama pesta berlangsung umumnya sehari-semalam, membuat si calon pengantin perempuan yang disebut ‘anak daro’ was-was dan cemas akan tidak sanggup menjalankannya. Bayangkan kalau dipakai selama satu dua jam. wah, bisa berkeringat dan bikin anak daro meringis. Namun semakin modernnya fashion, suntingpun ikut terkena imbasnya,  tapi tetap berkiblat pada budaya Minangkabau. Bahkan sekarang sunting tersedia yang tak berat dan nyaris seperti  menggunakan bando biasa saja, sehingga anak daro lebih santai dan bergerak leluasa tanpa keluhan sakit kepala.

Suntiang sendiri dirangkai menggunakan kawat ukuran satu perempat yang dipasang pada kerangka seng aluminium seukuran kepala. Pada kawat itu dipasang sedikitnya lima jenis hiasan. Kelima hiasan itu dinamakan suntiang pilin, suntiang gadang, mansi-mansi, bungo, dan jurai-jurai. Besarnya sebuah suntiang diukur dengan jumlah mansi atau kawat. Suntiang paling besar ukurannya 25 mansi, kemudian 23 mansi, dan 21 mansi yang paling umum dipakai saat ini. Suntiang yang dibuat juga dibagi tiga jenis berdasarkan bahan. Yang lebih berat dan mahal yang masih dibuat saat ini terbuat dari mansi padang (sejenis seng aluminium kuningan). Kemudian mansi kantau atau biasa, dan yang sekarang mulai banyak dipakai, terutama untuk pelajar, suntiang dari plastik yang jauh lebih ringan. Tapi yang paling bagus sebaiknya nanti dibuat dari titanium, sayangnya masih mahal.

Suntiang tidak terlepas dari perangkatan pakaian limpapeh Rumah nan Gadang di Minangkabau. Suntiang ini dipakai oleh anak gadis yang berpakaian adat maupun oleh pengantin wanita. Mengenai jenis dan nama suntiang ini berbagai ragam. Secara garis besar jenis suntiang ini adalah sbb :

  1. Suntiang bungo pudieng (suntiang berbunga puding)
  2. Suntiang pisang saparak (suntiang pisang sekebun)
  3. Suntiang pisang saikek (suntiang pisang sesisir)
  4. Suntiang kambang loyang (suntiang pisang sesisir)

Dari segi ikat (dandanan) dengan segala variasinya suntiang ini dapat pula dibedakan, suntiang ikat pesisir, suntiang ikat Kurai, suntiang ikat Solok Selayo, suntiang ikat Banuhampu Sungai Puar, suntiang ikat Lima Puluh Kota, suntiang ikat Sijunjung Koto Tujuh, suntiang ikat Batipuh X Koto, suntiang ikat Sungayang, dan Lintau Buo.

Suntiang ikat bungo pudieng banyak dipakai didaerah Batipuh Tanah Datar. Suntiang pisang separak banyak dipakai didaerah Luhak Lima Puluh Kota, Solok, Sijunjung Koto Tujuh, dan Sungai pagu. Suntiang pisang sasikek banyak dipakai di daerah Pesisir. Suntiang kambang loyang banyak dipakai di daerah lain.

Untuk baju, Minangkabau hanya mengenal dua jenis baju, yaitu baju kurung basiba dan baju kurung melayu (kebaya panjang). Baju ke dua ini lazim digunakan di daerah psisir barat, parang dan pariaman. Demikian juga halnya dengan warna, baju adat MinangKabau punya warna-warna pakem yang menjadi ciri khasnya. baju kurung warna merah dan gold sebagai ciri daerah Padang dan warna hitam sebagai ciri daerah Solok.

Baju-baju adat MinangKabau yang biasanya adalah semacam baju kurung yang longgar (tidak ketat), tebal (tidak transparan, tidak menerawang, tidak tembus pandang), sopan, tertutup mulai dari leher sampai ke mata kaki dan dihiasi dengan tutup kepala yang bentuknya beraneka ragam sesuai dengan daerah asal yang lebih spesifik. Oleh karena baju adat minangkabau yang cenderung tertutup, longgar dan tidak transparan ini, maka sangat mudah memadukannya dengan jilbab tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya.

Zaman sekarang, kebaya atau baju kurungpun sudah dimodifikasi, sehingga selain nuansa kental Minangkabaunya terlihat jelas, perpaduan dengan trend terbarupun membuat busana baralek jadi lebih… wah. Tapi klo ngeliat di nikahan BCL,terasa ada sesuatu yang kurang berkenan, mungkin maksudnya BCL desain pakaian nikah yang terbuka seperti itu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tapi seperti kurang tepat saja, ketika penyesuaian tersebut dilakukan,dengan membuat lebih terbuka pada bagaian yang seharusnya ditutupi dan dijaga oleh seorang wanita sayang bajunya tidak mencerminkan adat minangkabau. Ciri khas MinangKabau yang masih melekat erat satu-satunya tinggal ‘suntiang’ di kepala, baju dan kain yang melekat di badan sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memerihkan mata. Bajunya lebih menyerupai kebaya modern, yang super ketat, kebanyakan transparan dan dengan belahan di bagian dada yang super rendah (….ambooi deh, sejak kapan baju minang pake belahan di bagian dada…L). Yah, terserah sih, namanya juga public fugure tentunya punya kebutuhan dan tuntutan yang berbeda dan sejuta alasan lainnya. Tapi sebagai seorang generasi MinangKabau yang masih sangat peduli dengan keelokan budaya Minang, satu saja pesan “awak” buat  para pemakai baju-baju ‘modern’ itu. Please…tolong jangan katakan itu baju adat Minangkabau (mambana haa…). Katakan saja yang kalian pakai adalah baju campur-campur antara adat anu, adat ini, kreasi modern gabruk-gubrak serta dipadupadankan dengan budaya ano ito blablabla pyahpyahbruk jger. Pliiss ya, jangan bilang itu baju minangkabau. Kagak rela awak! Kagak rela !

Pakaian marapulai biasanya adalah ‘pakaian kebesaran adat’ yang terdiri dari baju gadang basiba, sarawa (celana) guntiang ampek dan Beta atau hiasan kepala dilengkapi dengan serong serta karih (keris).

Pelaminan adalah tempat kedudukan orang besar seperti raja-raja dan penghulu. Pada masa dahulu hanya dipakai pada rumah adat namun sekarang juga dipakai pada pesta perkawinan. Hal ini mungkin disebabkan marapulai dan anak dara sebagai raja dan ratu sehari. Kalau kita bertandang ke Museum Adityawarman di Padang, mungkin akan mendapat gambaran tentang pakaian pengantin di Sumatera Barat.

Perlengkapan pakaian adat Limpapeh Rumah Nan Gadang dibuat oleh orang Minangkabau sendiri. Ada daerah yang cukup terkenal dengan pandai sulam ini di Minangkabau seperti Padang, Pariaman, Tanjung Sungayang, Batipuh Bunga Tanjung, Koto Gadang, Payakumbuh. Sedangkan Pandai Sikat terkenal dengan tenunan kain upieh (kain balapak). Bukittinggi terkenal sebagai tempat penjual suntiang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Umumnya biro tata rias anak daro di seluruh Sumatera Barat, bahkan di luar provinsi itu, termasuk Jakarta membeli suntiang ke toko-toko di Bukittinggi. Tapi, suntiang sendiri sebenarnya dibuat sekelompok perajin di Kampung Pisang, Kecamatan Empat Koto, Kabupaten Agam. Sayang, hal ini tak banyak diketahui orang.

Foto:  Wens Photography
Tulisan: dari berbagai macam sumber

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.45 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204

http://minangphotographer.wordpress.com/
http://minangdigitalphotography.blogspot.com



Permalink 1 Komentar

WISATA PADANG, SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA

Maret 18, 2010 at 9:12 am (by Derisma) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , )

Ranah minang untuk sebagian orang awam identik dengan Padang, sehingga setiap orang yang berasal dari ranah minang selalu diasumsikan sebagai “Orang Padang”. Asumsi yang tentu saja salah kaprah karena ranah minang bukan hanya Padang (kota Padang) saja, tapi juga terdiri dari banyak kota/daerah lain seperti Pariaman, Solok, Sawahlunto, Sijunjung, Batusangkar, Bukittinggi, Payakumbuh, dan lain-lain. Sehingga sebutan “orang Padang” tentunya tidak pas dan oleh kebanyakan orang minang sendiri tidak dapat diterima. Karena itu, sebutan “urang awak” (menggunakan dialek minang) masih lebih dapat diterima oleh seluruh masyarakat minang. Dan tentu saja, ranah minang (tanah/daerah minang) bukanlah Padang (kota Padang), melainkan seluruh wilayah di Sumatera Barat tempat bermukimnya masyarakat minang, termasuk salah satunya adalah kota Padang sendiri.

Anehnya, rumah makan dan restoran diluar ranah minang selalu berlogo “rumah makan Padang”, dan bukan “rumah makan minang”. Begitu juga dengan makanan khas ranah minang yaitu sate, selalu berlogo “sate Padang” dan bukannya “sate minang”. Loh, kok tidak pernah terdengar “rumah makan Batusangkar” atau “sate Payakumbuh” ya…(he..he..he..). Ok deh, itu urusan masyarakat minang untuk “meluruskannya”, yang penting sekarang kita sudah sama-sama mengetahui kondisi dan realita yang sebenarnya. Ini merupakan salah satu keunikan budaya di Indonesia, dan ini bisa saja kita kategorikan sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa.

Apa saja keunikan wisata bumi Minangkabau? Banyak sekali!!!

A. Wisata alam
Ranah minang atau bumi Minangkabau memang indah. Alamnya kebanyakan masih asri dengan ciri khas hutan yang menghijau dan udara yang segar. Karena keasrian alamnya, tak heran jika banyak daerah di “bumi Malin Kundang” ini memiliki panorama alam yang mempesona, sehingga keluhan wisatawan yang tak sempat mengunjungi beberapa tempat wisata adalah hal yang sudah biasa terdengar. Wajar saja, karena untuk dapat menikmati keindahan alam ranah minang, waktu kunjungan dua atau tiga hari tentu tidak mencukupi. Tempat wisata di ranah minang tersebar di beberapa kabupaten dan kota. Sebut saja tempat wisata di kabupaten Agam, Tanah Datar, Pasaman, Padang Pariaman, Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, dan Solok. Atau di kota Bukittinggi, Sawahlunto, Padangpanjang, Payakumbuh, Batusangkar, dan tentu saja ibukota propinsi Sumatera Barat, Padang. Sumatera Barat memang identik dengan sejumlah objek wisata pantai. Hampir seluruh kabupaten di sepanjang pantai tersebut, memiliki pantai yang indah mempesona serta punya keunikan tersendiri.

Berikut adalah beberapa tempat wisata di kabupaten dan kota di ranah minang:

  1. Kabupaten AGAM: Danau Maninjau, Puncak Lawang, Ambun Pagi, Kelok Ampek Puluah Ampek, Kolam Air Tigo Raso, Pernahkah Anda mendengar nama Buya Hamka, Rasuna Said, M. Natsir, Isa Anshari, Abdul Karim Amurullah. Mereka itu berasal dari daerah Maninjau dan berjuang hingga tingkat nasional.
  2. Kabupaten TANAH DATAR: Lembah Anai, Puncak Pato, Tanjung Mutiara, Padang Gantiang (pemandian air panas).
  3. Kabupaten LIMAPULUH KOTA: Lembah Harau, Pemandian Batang Tabik, Rumah Gadang Sungai Beringin, Kelok Sembilan, Kolam Renang Ngalau Indah.
  4. Kabupaten PESISIR SELATAN: Pantai Carocok (jembatan apung), Pulau Batu Kareta, Pulau Cingkuk (kita jumpai bekas-bekas Reruntuhan Benteng Portugis), Pulau Cubadak (Pulau Syorga para penyelam), Pulau Penyu, Jembatan Akar, Mandeh Resort, Air Terjun Bayang Sani, Kawasan Bukit Langkisau (Olah raga Paralayang), air terjun Timbulun, pantai Pasir Panjang, Air terjun Pelangai Gadang, Panorama Laut Teluk Mande, pantai Teluk Tempurung, Jembatan Akar di kecamatan Bayang, air terjun Timbulun di kecamatan IV Jurai, pantai Carocok di Painan, air terjun Bayangsani di kecamatan Bayang, Panorama Langkisau di Painan, pantai Carocok juga di Painan, pasir putih Kambang di kecamatan Lengayang, kuburan Cindua Mato dan Bundo Kanduang.
  5. Kabupaten PASAMAN: Tugu Equator “Bonjol, kawasan cagar alam Rimbo Panti (cagar alam ini terdapat fauna yang dilindungi seperti harimau sumatra, burung madu (Helarctos malayanus), siamang, rusa, bangsa burung) juga terdapat satu kolam pemandian air panas yang cukup ramai dikunjungi masyarakat, Pulau Panjang, Gunung Talamau dan Gunung Pasaman, Bukit Harimau Campo, air terjun lenggogeni, Kawasan Padang Siranjano karena disini tempatnya belasan telaga, seperti talago Biru.Talago Rajo Bagindo, Talago Puti, Talago Lumuik dan talago lainnya, Pantai Sasak, Ikan bakar tenggiri.
  6. Kabupaten PARIAMAN: Pantai Gondoriah (tempat prosesi ’Tabuik’), Nasi Sek (Nasi Seribu Kenyang), Pantai Arta, Pantai Kata, Lubuk Bonta, Tapian Puti, Pantai Ulakan , Pulau Piai, makam Syekh Burhanudin (Para pejabat penting pun pernah singgah dan melakukan ziarah ke sini. Seperti Gus Dur, Wiranto, Taufik Kiemas, dan banyak para pejabat lainnya. Entah dengan maksud apa, yang pasti, pada saat menjelang pilkada, para calon kepala daerah biasanya sering datang berkunjung ke makam Syekh Burhanuddin).
  7. Kota PADANG: Pantai Padang/Pantai Muaro, Teluk Bayur, Pasir jambak, Pantai Air Manis (Batu Malin Kundang, Pulau Pisang), kereta api wisata “Mak Itam”, wisata pemandian alam, (yakni Lubuk paraku, Lubuk minturun atau Sarasah Sikayan Balumuik,, Taman Hutan Raya “Bung Hatta”, Jembatan “Siti Nurbaya”( sungai Batang Arau) , Lubuak Tampuruang, pantai Carolina di Bungus, pantai Pasir Jambak, rafting/ arung jeram di Sungai Batang Kuranji.
  8. Kota BUKITTINGGI (dikenal dengan Parisj van Sumatra): Jam Gadang (dari puncaknya yang menjulang tinggi, pengunjung dapat menikmati dan menyaksikan betapa indahnya alam sekitar Bukittinggi yang dihiasi oleh pemandangan Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Sago dan Ngarai Sianok). Rumah Kelahiran Bung Hatta, Lobang Jepang (Japanesse Tunnel), Benteng Fort de Kock, Pasar Atas, Ngarai Sianok, Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Kebun Binatang Taman, Bundo Kanduang, Ngalau Kamang, Jenjang 40, Pasar Atas dan Pasar Bawah, serta sejumlah bangunan tua peninggalan Belanda dan Jepang. Kota Bukittinggi yang terletak di daerah rang Agam ini memang memiliki beberapa kelebihan dari daerah yang lain seperti udaranya yang sejuk dan nyaman, baik pagi, siang maupun malam, yang disertai dengan panorama alam yang indah serta lokasinya yang strategis yang terletak ditengah-tengah antara Kota Solok, Payakumbuh, Pariaman, Lubuk Basung dan Batusangkar. Dengan posisinya yang strategis ini Kota Bukittinggi ini juga tumbuh sebagai kota perdagangan utama di Sumatera Barat.
  9. Kota PADANG PANJANG: Padangpanjang punya julukan lain sebagai Kota Hujan, Sungai yang mengalir dalam kota pun sangat jernih dan mengalir deras, Malibo Anai, Waterboom (Minang Fantasi dan Lubuak Mato Kuciang), Sate “Mak Syukur”, Rumah Makan Pak Datuk, Sanjai Bundo, museum kebudayaan Minangkabau yang disebut Pusat Data dan Informasi Minangkabau atau Minangkabau Village, Bukit Berbunga.
  10. Kota PAYAKUMBUH: “Green Canyon” di Lembah Harau (Green Canyon di Harau betul-betul mirip Green Canyon asli, didalam goa ini kita dapat menyaksikan stalagmite dan stalagit yang beraneka macam bentuknya), Lembah Harau mempunyai tujuh air terjun (sarasah) yang mempesona, Di Lembah Harau terdapat hutan lindung di dalamnya hidup beberapa binatang langka asli Sumatera. Di antara satwa tersebut adalah monyet ekor panjang, primata jenis Maccaca Fascicularis. Bila beruntung, para wisatawan juga bisa menyaksikan harimau Sumatra, beruang, tapir dan landak yang hampir punah. Pacu Itik, Randai, Pemandian Batang Tabik, Jembatan Ibuh dan Tugu Ratapan Ibu.
  11. Kabupaten SOLOK: Danau Singkarak, Danau kembar Tiga (Danau Diatas dan Danau Dibawah, Danau Talang), Gunung Talang (mata air panas), Bukit Kili (pemandian air panas), Perkebunan Teh Alahan Panjang, Gunung Merah-Putih dengan Janjang Saribunyo (tangga seribu), Pulau Belibis, dendeng batokok, Pantai Cermin (Grand Canyon), beras Muarolabuh, objek wisata air panas Sapan Maluluang, hamparan kebun karet, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
  12. Kota SAWAHLUNTO (Kota Wisata Tambang yang Berbudaya): Waterboom Muaro Kalaban, Pemandian Air Dingin, Museum Kereta Api, berwisata dengan suasana ala koboi, bekas tambang, Bangunan/rumah tua, Panorama Alam Kayu Gadang, Batu Sandaran yang antik, Danau Kandi, makam Prof.MR.H Muhammad Yamin, bangunan bekas peninggalan Belanda, kawasan Sitinjau Laut, tenun Silungkang, Kopi pahit Silungkang (kopi Teko) masyarakat mendulang emas, pacuan kuda.
  13. Kota BATUSANGKAR: Istana Pagaruyuang (Istano Basa), Istana Linduang Bulan, Masih di dekat Istano Basa, ada sekelompok batu prasasti. Batu-batu prasasti ini disebut “Prasasti Adityawarman”, yang menceritakan tidak saja sejarah Minang, tapi sepenggal sejarah Nusantara secara utuh.

Nah, itu baru tempat-tempat wisata alam, padahal sepanjang perjalanan menuju tempat-tempat diatas kita akan disuguhi pemandangan alam yang indah dan menawan, bukit-bukit dengan pepohonan yang menghijau, jurang-jurang yang terjal, sungai/anak sungai yang jernih, hamparan sawah yang bertingkat-tingkat, rumah-rumah penduduk yang asri, dan masih banyak yang lainnya yang memang sedap dipandang mata. Ingin mengunjungi semuanya? Persiapkan saja waktu liburan yang mencukupi dan tentu saja dana yang memadai.

B. Wisata belanja dan budaya

Yang paling khas, Rendang daging adalah masakan khas urang Minang. Selain resto lokal, banyak sekali lokasi jajanan yang layak disambangi, misalnya kawasan Pondok. Kita bisa menemukan segala macam makanan di sini, dan semuanya lezat, es durian, sate (sate Padang, sate Dangung-dangung, sate Padangpanjang, sate Pariaman, dll.), roti bakar, martabak (martabak kubang, martabak manis, roti cane), bubur kampiun (bubur khas Padang), teh talua (teh telor), Yang favorit : durian. Paling terkenal adalah durian dari daerah Pasaman, tapi umumnya tiap daerah di Sumatera Barat menghasilkan durian yang lezat dan… murah meriah! Hm… sampe bilang “tambuah ciek” !!!!. Tujuan belanja kain songket (umumnya berasal dari Koto Gadang, Padang panjang, Payakumbuh, dan Silungkang), tekstil lainnya, kerajinan tangan (dari bahan kayu, perca, dll.), kerajinan perak (paling terkenal buatan Koto Gadang, Bukittinggi), mukena, postcard, souvenir rotan, dll. Jika di luar kota, Pasa Ateh (pasar Atas) di Bukittinggi adalah lokasi yang lebih lengkap: kerupuk sanjai, gelamai, kerupuk jangek (kulit), dll. Sedangkan wisata budaya diantaranya:

  • Istana Pagaruyuang (Istano Basa)
  • Museum Adityawarman (Jl. Diponegoro 10), beserta Taman Budaya
  • Kampus Universitas Andalas (bukit Limau Manis), pemandangannya indah

C. Keadaan Sosial Budaya

  • Falsafah Minangkabau adalah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Jadi pada umumnya agama yang dianut urang Minang adalah Islam.
  • Garis keturunan urang minang memakai asas matrilineal.
  • Umumnya laki-laki Minang yang sudah cukup umur akan merantau. Pada zaman dulu, jika tidak merantau ke luar daerah, paling tidak mereka sudah tidak lagi tinggal di rumah keluarganya. Merantau dan berdagang bagi urang minang adalah budaya, tapi bukan berarti mereka lupa untuk membangun kampung halamannya sendiri.
  • Umumnya kantor-kantor pemerintah daerah di Sumatera Barat mengadopsi arsitektur Rumah Bagonjong (Rumah dengan atap menyerupai tanduk, oleh orang luar kadang disebut Rumah Gadang). Rumah-rumah pribadi pun di beberapa lokasi cukup banyak yang mengadopsi bentuk rumah bagonjong ini.
  • Sistem pemerintahan Minangkabau adalah Nagari. Tiap-tiap Nagari dipimpin oleh Wali Nagari.
  • Masakan Padang umumnya pedas, boleh dibilang, kecap jarang ditemukan di sini.
  • Setelah Pariaman, Padang adalah kota yang hawanya gerah! Sekitar 32-34 oC, sebaliknya Bukittinggi adalah kota paling dingin di Sumatera Barat, pada malam hari bisa mencapai 18 oC
  • Suasana trotoar sepanjang Jl. Permindo mirip dengan Jl. Malioboro di Jogja. Penuh pertokoan dan pedagang kaki lima.
  • Orang Minang umumnya menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Tapi sebenarnya, bahasa Minang cukup mudah dimengerti.
  • Banyak penulis/pemuka besar lahir di sini. Tari-tarian yang berasal dari Minangkabau juga sangat banyak, seperti Tari Pasambahan, Tari Piring, dll.

Temukan informasi lainnya mengenai Minang, Padang, Sumatera Barat, perkawinan adat minangkabau, Foto Pengantin, Foto Prewedding, Photo Pernikahan, Fotografi Pernikahan, Photo Wedding, Fotografi Wedding, Foto Pernikahan, Foto Wedding, Photo Pernikahan & Fotografi Wedding, foto perkawinan, wedding photo, paket foto, fotografer pernikahan, wedding photographer, pre wedding photographer, Minang Wedding, Pre Wedding photography & Wedding Party photography Padang – Sumbar, Padang wedding, Wedding Gallery & Event Organizer, Pre Wedding Photography, pre wedding, pre wedding photographer, pre wedding photography, wedding vendors, Pre Wedding Photography, Pre Wedding Foto, Foto Pra Nikah Foto, Paket Wedding, hasil foto, bentuk foto, ukuran foto, photo pre wedding, foto wisuda, foto keluarga, foto seminar, foto produk di…

Wen’S Photography
Digital Photo Studio & Video Shooting
Jl. Gajah Mada No.45 Gunung Pangilun Padang
Hp 08126764527, Telp 07519901204
http://minangdigitalphotography.blogspot.com

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.